Saga

Adenanthera pavonina

Pohon tinggi dengan tajuk menyebar, dapat mencapai ketinggian 15–40 meter, dan berumur panjang. Daunnya majemuk menyirip ganda dan anak daunnya berbentuk bulat dengan tepi rata. Bunganya kecil, kekuning-kuningan, beraroma harum. Buah berupa polong (menyerupai petai) berwarna hijau menjadi cokelat, dan akan pecah saat tua. Biji berjumlah 10–12 butir per polong, berbentuk segitiga tumpul, keras, mengkilap, dan berwarna merah menyala.
Nama LatinAdenanthera pavonina
Nama FamiliFabaceae
Distribusi AsliIndia, Sri Lanka
Ruang Tumbuh OptimalTanaman yang tangguh, mampu tumbuh di lahan kritis, daerah berbatu, hingga tanah payau. Menyukai sinar matahari penuh (full sun) dan toleran di berbagai kondisi tanah dan topografi. Tumbuh optimal di iklim tropis di dataran rendah hingga pegunungan (hingga 1.800 m dpl).
PemanfaatanBiji mengandung protein tinggi dan asam lemak (dapat diolah menjadi tempe, kecap, kopi, atau sumber biodiesel/pakan ternak). Biji mentah beracun, harus diolah. Biji merah cerah digunakan sebagai bahan baku pembuatan perhiasan tradisional (kalung, gelang) atau aksesoris. Kayunya keras dan kuat (Redwood), digunakan sebagai bahan bangunan, furnitur, dan kayu bakar. Daun, kulit batang, dan akar digunakan untuk mengobati sariawan, radang tenggorokan, amandel, radang mata, batuk, asam urat, dan sebagai antibakteri/antioksidan. Dahulu bijinya digunakan sebagai alat penimbang emas karena beratnya yang relatif konstan. Umum ditanam sebagai pohon peneduh di jalan-jalan besar atau perkotaan.

Subscription Request Successfully placed!

Your Message successfully sent!